Blog

Teks Editorial Lengkap Strukturnya

Sobat, apakah Anda pernah mendengar istilah teks editorial? Jika Anda sering membaca koran seperti majalah atau koran, di koran biasanya banyak berita yang berisi kumpulan fakta dan informasi berguna untuk Anda. Namun selain berita, biasanya ada kolom lain di surat kabar yang berisi opini atau opini yang ditulis oleh pemimpin redaksi. Sekarang kolom yang berisi opini atau pendapat editor disebut dengan teks editorial.

Apakah Anda masih bingung dengan contoh teks editorial ? jika Anda masih bingung, lihat Memahami teks editorial, tujuan, struktur, fungsi, kelebihan, dan contoh teks editorial lengkap di bawah ini.

Pengertian teks editorial

Teks editorial adalah artikel di koran yang merupakan opini editor atau opini dari suatu peristiwa yang nyata atau merupakan subyek perdebatan sengit ketika surat kabar tersebut diterbitkan. Masalah nyata atau masalah bisa dalam bentuk masalah politik, sosial atau ekonomi yang terkait dengan politik. Contoh masalah yang diangkat termasuk meningkatnya bahan bakar, perombakan kabinet, kebijakan impor, dll. Teks editorial biasanya muncul secara teratur di surat kabar atau majalah.

Teks editorial adalah opini atau opini yang ditulis oleh penerbit suatu media tentang masalah nyata di masyarakat. Pendapat yang ditulis oleh penerbit dianggap sebagai pendapat resmi penerbit atau media tentang masalah nyata.

Meskipun teks editorial adalah opini atau opini, tetapi secara tertulis tidak bisa sembarangan. Penulisan opini atau opini harus disertai dengan fakta, bukti dan argumen logis.

Ciri-ciri teks editorial:

Subjek teks editorial selalu panas (berkembang dan didiskusikan banyak orang), nyata dan faktual.
Teks editorialnya sistematis dan logis.
Teks editorial adalah opini / opini yang kontroversial.
Teks editorial menarik untuk dibaca, karena ditulis menggunakan kalimat pendek, ringkas dan jelas.

Struktur teks editorial

Ada 3 struktur yang membentuk teks editorial / opini, yaitu:

Pernyataan pendapat (tesis), bagian yang berisi sudut pandang penulis tentang masalah yang dibahas, biasanya berisi teori yang akan diperkuat oleh argumen.
Argumen, adalah alasan atau bukti yang digunakan untuk memperkuat klaim dalam tesis. Topik-topik yang diberikan dapat berupa pertanyaan umum / data penelitian, pernyataan pakar, serta fakta berdasarkan referensi yang dapat diandalkan.
Deklarasi / Pengulangan (Reiteration), adalah bagian yang berisi penegasan kembali pendapat yang didukung oleh fakta-fakta di bagian argumentasi untuk penguatan / konfirmasi. Penegasan kembali di akhir teks.

Aturan bahasa teks editorial

Aturan linguistik yang digunakan dalam teknologi editorial tidak jauh berbeda dari teks prosedural kompleks yang menggunakan kata kerja material.

Adverb, bertujuan untuk membuat pembaca percaya teks yang dibahas menggunakan adverbia seperti biasa, sering, biasanya, kadang-kadang, jarang dan sebagainya.
Konjungsi adalah konjungsi dalam teks, sebagai sama dan seterusnya.
Kata kerja material adalah kata kerja yang menunjukkan tindakan atau peristiwa fisik.
Kata kerja rasional adalah kata kerja yang menunjukkan intensitas hubungan (Pengertian B adalah C) dan milik (Mengandung pemahaman B memiliki C)
Kata kerja mental adalah kata kerja yang menunjukkan persepsi (lihat, dll.), Kasih sayang (perhatian dan lain-lain) dan kognisi (pemahaman dan lain-lain). Ada partisi dalam kata kerja mental [mereka adalah indera dan fenomena.

Contoh teks editorial surat kabar

Mitigasi pra-bencana

TERSEDIA payung sebelum hujan, itu menjadi ekspresi yang diajarkan oleh nenek moyang dan menjadi acuan untuk mengantisipasi masalah yang mungkin timbul. Untuk alasan ini, pemerintah menggemakan program mitigasi untuk setiap daerah yang terkena bencana.

Pemerintah harus menerapkan berbagai upaya pencegahan, kesiapsiagaan, peringatan dini, antisipasi dan mitigasi serta manajemen bencana. Halaman. 24/2007 tentang penanggulangan bencana, pasal 5 menyatakan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab atas pelaksanaan manajemen bencana.

Parameter persiapan dan mitigasi pemerintah tercermin dua kali dalam gempa bumi di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB). Gempa bumi pertama terjadi pada 28 Juli 2018 dengan kekuatan 6,4 skala Richter (SR) dan tidak ada kecelakaan fatal. Selain itu, tidak ada tsunami di sepanjang pantai Lombok Utara.

Dan seminggu kemudian, pada 5 Agustus 2018, gempa bumi mengguncang Lombok Utara lagi, sementara penduduk melakukan shalat malam. Kali ini gempa lebih dahsyat, yaitu 7 SR. Meskipun tidak ada tsunami, ada banyak korban. Ratusan warga tewas karena konstruksi puing-puing saat gempa.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa sebagian besar korban meninggal karena jatuh bangunan. Sementara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) berteori bahwa gempa pertama adalah pendahuluan, sedangkan gempa bumi utama atau gempa bumi utama adalah pada 5 Agustus dengan kekuatan 7 SR. Selanjutnya, gempa susulan dengan kekuatan yang relatif lebih kecil.

Jika dikaji dengan penjelasan dua lembaga pemerintah yang mempercayai penanggulangan bencana, itu berarti sudah ada prediksi bahwa Lombok Utara adalah daerah yang rawan gempa. Sebab, wilayah itu berada di atas patahan tanah, sehingga sejauh ini harus bisa melakukan mitigasi bencana.

Definisi mitigasi berdasarkan UU 24/2007 adalah upaya untuk mengurangi risiko bencana bagi orang-orang di daerah rawan bencana. Ini berarti bahwa upaya harus dilakukan di daerah Lombok Utara, setidaknya sosialisasi masyarakat dalam menghadapi gempa bumi. Sosialisasi bangunan tahan gempa dan rute evakuasi telah disiapkan.

Sekarang Lampung juga merupakan daerah yang terkena gempa bumi, terkait dengan posisi Bumi Ruwa Jurai pada patahan lempeng Eurasia dan Indo-Australia. Sehingga ada ancaman korban, jika pemerintah gagal memberikan mitigasi sebelum bencana datang, penderitaan bagi banyak orang akan menjadi pemandangan tragis yang tidak bisa lagi dihindari.

Jangan sampai akibat dari minimnya mitigasi, bencana berikutnya akan memakan banyak korban. Terutama jika mitigasi dan manajemen bencana hanya digunakan sebagai proyek. Jadi, korban yang sangat terluka sebenarnya berteriak lebih banyak tentang rasa sakit itu. Mitigasi sebelum bencana terjadi adalah suatu keharusan.

Demikianlah pembahasan tentang teks editorial mengenai surat kabar, semoga bermanfaat. Terima kasih!

Artikel terkait : materibelajar.co.id