Blog

Syarat Memandikan Jenazah

Ketika mendengar atau mengerti ada seseorang yang dekat dengan kita meninggal dunia, entah itu teman, keluarga, atau pun tetangga di dekat rumah.

Pasti dengan bergegas, sebagai keliru seorang umat Islam yang mengerti dapat bermakna perilaku sosial, maka mampir dan menawarkan pemberian adalah perihal yang baik untuk dilakukan.

Tak usah menanti ada yang meminta atau pun bertanya. Kita udah sebaiknya mampir dan menunjang untuk mengurusi saudara kita khususnya muslim yang udah berpulang ke Rahmatullah.

Karena semua pastilah udah mengerti bahwa kematian dapat kapan saja mampir kepada tiap tiap yang bernyawa.

Tak ada yang mengerti kapankah hari terakhirnya di dunioa ini sebab sebenarnya perihal tersebut menjadi rahasia Allah SWT.

Selain itu, mereka yang udah berpulang dapat meninggalkan kenangan dan hanya amalan baik lah rekan perjalanan mereka di alam berikutnya.

Ketahui bahwa sebenarnya Umur seseorang ada yang dipanjangkan dan sebaliknya dipendekkan. Bahkan, panjang atau pendek umur seseorang berada pada lokasi takdir Allah.

Tidak dapat ada seorangpun yang mengerti tentang kepastian umur itu. Masyaallah…

Oleh sebab itulah, seorang muslim tatkala mendengar berita kematian, maka disarankan untuk segera mengucapkan kata-kata istirja’.

الذين اذا اصابتهم مصيبة قالوا انا لله وانا اليه راجعون

Artinya:

(yaitu) orang-orang yang seumpama ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”

(Sesungguhnya kita adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kita kembali). (Al-Baqarah 2:156)

Selain itu, ada tata langkah tersendiri bagaimana seseorang mengurusi mereka yang udah tak ada tak hanya dengan mengubur, dan menshalati, yaitu dengan mengerti dapat tata langkah memandikan jenazah.

Bukan hanya manusia biasa saja yang perlu dimandikan dan disucikan.

Nabi Muhammad SAW termasuk kala beliau meninggal dimandikan dan disucikan dengan memanfaatkan air. Dan tahukah air bekas pemandian jasad Rasulullah sangatlah istimewa?

Apakah ada bacaan dan langkah memandikan jenazah yang berbeda?

Bukan sebab perihal tersebut, lebih lengkapnya pada kisah teladan tersebut ini.

Kisah Air Bekas Pemandian Jasad Rasulullah SAW.

Pernah tidak kamu bertanya-tanya apakah yang terjadi sehabis detik-detik Rasulullah SAW meninggal dunia?

Mulai dari prsosesi pemakaman sampai tentang masalah air bekas pemandian beliau yang diguyurkan kemana?

Karena kemungkinan saja, kita sebagai orang awam mengira air bekas pemandian jasad Nabi Muhammad SAW masih disimpan sampai waktu ini.

Memang benar air tersebut masih ada sampai waktu ini, namun dengan wujud yang berbeda.

Pada kisaran tahun 90-an, dalam sebuah Muktamar Tingkat Dunia yang diadakan di Mesir, terlihat pertanyaan dari Syeikh Mutawwali Asy-Sya’rawi tentang kemanakah perginya air bekas memandikan jasad Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam.

Semua peserta Muktamar yang merupakan para ulama perwakilan dari beraneka negara itu tak ada yang mampu menjawab.

Karena pertanyaan tersebut menarik dan belum dulu dibahas dalam histori Islam sebelumnya, maka sang pimpinan Muktamar meminta waktu untuk mencari jawaban tersebut.

Beliau bicara bahwa besok beliau dapat menemukan jawabannya.

Sepulangnya dari Muktamar, sang pimpinan segera masuk ke perpustakaan dan terhubung semua kitab yang ada guna mencari jawaban dari pertanyaan tersebut.

Namun sehabis semua kitab dibuka, tak ada satupun kata-kata yang membahas pertanyaan tersebut. Karena kelelahan, akhirnya beliau tertidur.

Saat tidur itulah beliau bermimpi bersua dengan Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam yang tengah dengan seorang pembawa lentera.

Bak pucuk dicinta ulam pun tiba, beliau memanfaatkan peluang tersebut untuk meminta jawaban yang dicarinya segera kepada Rasulullah.

Rasulullah berikan tanda supaya beliau menanyakan kepada pemegang lentera disampingnya. “Tanyalah kepada Shohibul Qindil (Lentera).”

Shohibul Qindil menjawab, “Air tersebut naik ke langit dan turun ulang ke bumi dengan hujan. Setiap tanah yang dijatuhi air tersebut, maka di sesudah itu hari dapat didirikan sebuah masjid.”

Keesokan harinya, berdirilah sang pemimpin Muktamar untuk menambahkan jawaban tentang perginya air bekas memandikan jasad Rasulullah. Semua yang ada terkagum-kagum.

Syeikh Mutawwali yang mengajukan pertanyaan tersebut, menanyakan lagi,

“Darimana engkau mengetahuinya?” Sang pimpinan Muktamar menjawab,

“Dari seseorang yang waktu itu tengah dengan Rasulullah dalam mimpiku semalam.”

Syeikh Mutawwali menanyakan lagi, “Apakah ia mempunyai Qindil?” “Bagaimana engkau tahu?” Tanya balik sang pimpinan.

“Karena akulah Shohibul Qindil tersebut.” Jawab Syeikh Mutawwali.

Meskipun banyak perihal yang mengakibatkan kerancuan, namun jelasnya dari cerita tersebut bukan masalah keyakinan orang tersebut.

Tapi lebih tepatnya keajaiban yang tercipta dari bekas air pemandian jasad Nabi Muhammad SAW yang mampu kita memandang sampai waktu ini dalam wujud masjid.

Ya sebuah perihal indah ulang menjadi tempat ibadah yang terlalu nyaman untuk semua umat Muslim di semua dunia. MasyaAllah…

Terlepas dari perihal tersebut, tentu kita sebagai umat Islam dapat mencari mengerti bagaimana caranya doa mensucikan jenazah dengan benar supaya mampu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh sebab itu, tersebut ini adalah langkah memandikan jenazah beserta niatnya dan doa yang mampu dimengerti bersama.

Syarat Memandikan Jenazah dan Bagaimana Harusnya Jenazah yang Dimandikan

Salah satu perihal mampu dikerjakan tiap tiap muslim waktu mengerti seseorang meninggal adalah mampu dengan menunjang mensucikan, mengkafani, sehabis itu menguburkannya.

Perlu diketahui bahwa langkah memandikan jenazah bukan ceroboh dan ada urutan tersendiri yang perlu dipenuhi oleh hendak memandikan jenazah tersebut.

Memandikan mayat hukumnya adalah fardu kifayah atas muslim lain yang masih hidup.

Artinya, seumpama di antara mereka ada yang mengerjakanya, kewajiban itu udah terbayar dan gugur bagi muslim selebihnya sebab perintah memandikan mayat itu adalah kepada kebanyakan muslim.

Namun bagi muslim yang mati syahid tidaklah dimandikan walaupun ia dalam suasana junub sekalipun.

Tetapi ia hanya dikafani dengan busana yang baik untuk kain kafan, dilengkapi kecuali tidak cukup atau dikurangi kecuali berlebih dari tuntunan sunah, lantas dimakamkan dengan darahnya tanpa dibasuh sedikit pun.

Beliau menyuruh supaya para syuhada dari Perang Uhud dikuburkan dengan darah mereka tanpa dimandikan dan disembahyangkan.

Syarat Wajib jenazah yang perlu atau pun disarankan untuk dimandikan adalah ketika,

Mayat orang islam.
Ada tubuhnya, walaupun sedikt yang mampu dimandikan.
Mayat itu bukan mati syahid.
Bukan bayi yang keguguran dan kecuali lahir dalam suasana udah meninggal tidak dimandikan

Kemudian, tak hanya mengerti langkah mandikan mayit dengan benar dan baik, perlu syarat bagi orang yang hendak memandikan jenazah, yaitu di antaranya adalah:

Muslim, berakal, baligh.
Berniat memandikan jenazah.
Jujur dan saleh.
Terpercaya, amanah, mengerti hukum memandikan mayat dan mampu menutupi aib si mayat.

Adapun orang yang mempunyai hak untuk memandikan jenazah dalam islam antara lain sebagai berikut:

1. Orang yang utama memandikan dan menghafani jenazah mayat laki-laki adalah orang yang diwasiatkanya, sesudah itu bapak, kakek, keluarga terdekat, muhrimnya, dan istrinya.

2. Orang utama yang memandikan mayat perempuan adalah ibunya, neneknya, keluarga paling dekat dari pihak wanita dan juga suaminya.

3. Untuk mayat anak laki-laki boleh perempuan yang memandikannya dan sebaliknya untuk mayat anak perempuan boleh laki-laki yang memandikanya.

4. Jika seorang perempuan meninggal, sedang yang masih hidup semuanya hanya laki-laki dan dia tidak mempunyai suami.

Atau sebaliknya seorang laki-laki meninggal waktu yang masih hidup hanya perempuan saja dan tidak mempunyai istri, mayat tersebut tidak dimandikan namun lumayan ditayamumkan oleh seorang dari mereka dengan memakai lapis tangan.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. yang artinya,

“Jika seorang meninggal ditempat laki-laki dan tidak ada perempuan lain atau laki-laki meninggal ditempat perempuan-perempuan dan tidak ada laki-laki selainnya.

Maka kedua mayat itu ditayamumkan, lantas dikuburkan sebab kedudukanya sama layaknya tidak mendapat air.” (H.R Abu Daud dan Baihaqi)

Setelah mengerti tentang syarat apa saja tentang orang yang memandikan jenazah, dan bagaimana jenazah yang perlu dimandikan.

Jangan sampai terlupa bahwa tata langkah dan doa memandikan jenazah termasuk penting untuk diulas.

Lantas, bagaimana pelafalan doa dan tata caranya yang benar?

Tata Cara Memandikan Jenazah dan Doa Memandikan Jenazah
Bagi umat Islam yang hendak mengantarkan saudaranya sesama muslim ke liang kubur, perlulah untuk memandikan atau mensucikan, mengkafani, dan menshalati jenazah tersebut khususnya dahulu.

Karena manusia mampir ke dunia ini dengan tubuh yang suci, maka kala ia ulang termasuk perlu disucikan khususnya dahulu, kecuali mereka yang gugur dalam berjihad di jalan Allah SWT.

Dan tersebut inilah {beberapa|sebagian|lebih dari satu} langkah memandikan jenazah orang muslim.

1. Menyiapkan semua peralatan untuk memandikan jenazah.

Sebelum memandikan jenazah, siapkan peralatan yang dibutuhkan yaitu sebagai fasilitas untuk meluruhkan kotoran pada badan empunya dan tak mengakibatkan keburukan bagi jenazah dan orang lain.

Peralatan yang dibutuhkan untuk memandikan jenazah antara lain sebagai berikut:
Tempat memandikan pada ruangan tertutup.
Air secukupnya.
Sabun, air kapur barus dan wangi-wangian.
Sarung tangan untuk memandikan.
Potongan atau gulungan kain kecil-kecil.
Kain basahan, handuk, dan lain-lain.

2. Ambil kain penutup dan gantikan kain basahan supaya aurat utamanya tidak kelihatan

3. Mandikan jenazah pada tempat tertutup.

4. Pakailah sarung tangan dan bersihkan jenazah dari segala kotoran.

5. Pakai sarung tangan yang masih baru, lantas bersihkan semua badannya dan tekan perutnya perlahan-lahan.

6. Tinggikan kepala jenazah supaya air tidak mengalir kearah kepala.

7. Masukkan jari tangan yang udah dibalut dengan kain basah ke mulut jenazah, gosok giginya dan bersihkan hidungnya, sesudah itu diwudhukan.

8. Siramkan air ke sebelah kanan dahulu, sesudah itu ke sebelah kiri tubuh jenazah.

9. Mandikan jenazah dengan air sabun dan air mandinnya yang terakhir dicampur dengan wangi-wangian.

10. Perlakukan jenazah dengan lembut ketikan membalik dan menggosok bagian tubuhnya.

11. Memandikan jenazah satu kali kecuali mampu membersihkan ke semua tubuhnya itulah yang wajib.

12.Disunahkan mengulanginya {beberapa|sebagian|lebih dari satu} kali dalam bilangan ganjil.

13. Jika terlihat dari jenazah itu najis sehabis dimandikan dan tentang badannya, perlu dibuang dan dimandikan lagi.

Jika terlihat najis sehabis diatas kafan tidak perlu diulangi mandinya, lumayan hanya dengan melenyapkan najis tersebut.

14. Bagi jenazah wanita, sanggul rambutnya perlu dilepaskan dan dibiarkan menjulur ke belakang, sehabis disiram dan dibersihkan, lantas dikeringkan dengan handuk dan dikepang.

15. Keringkan tubuh jenazah seteah dimandikan dengan kain supaya tidak membasahi kain kafannya.

16. Selesai dimandikan, sebelum saat dikafani berilah parfum yang tidak mengandung alkohol, kebanyakan memanfaatkan air kapur barus.

MasyaAllah, sungguhlah pengetahuan tersebut mampu menambahkan kemudahan untuk kita supaya nantinya kala mengerti ada seorang muslim yang udah berpulang.

Maka kecuali sangat mungkin merupakan tugas kita untuk memandikan dan menunjang prosesi selanjutnya dengan baik.

Artikel Terkait : Keranda Jenazah
Baca Juga : Kain Penutup Keranda