Blog

Permasalahan Limbah Cair Rumah Tangga yang Tak Menentu

Di daerah-daerah selama pemukiman, selain Mitra Sabena adanya sungai di samping sebagai drainase alamiah air, sering juga pada sungai digunakan sebagai tempat pembuangan air limbah. Aktifitas rumah tangga atau industri selalu memerlukan tempat kosong dan Jasa Sedot Mampet untuk membuang benda-benda tidak berguna, bekas keaktifitasnya. Sungai juga tidak terlepas dari sampah yang diperoleh manusia. Beragam limbah sering dibuang oleh manusia ke sungai, menjadikan sungai kotor dan keruh.

Air limbah yang dibuang secara langsung ke sungai tanpa proses pengolahan bisa membahayakan kehidupan biota di dalamnya dan penurunan kualitas air. Disadari atau tidah limbah detergen yang didapatkan dari kompleks sudah menimbulkan kehancuran yang tidak terlihat. Umumnya, air tercemar bisa dilihat dari fisiknya, yaitu awalnya bening menjadi keruh atau kehitaman-hitaman bahkan sering menimbulkan bau tidak enak. Masyarakat umumnya tidak memahami efek bahaya dari detergen yang dibuang ke sungai. Kurangnya sosialisasi dari produsen dan pemerintah mengenai bahaya dari sisa detergen ke lingkungan menunjukkan ketidakpedulian pada masyarakat dan alam. Sekali lagi kepentingan ekonomi dan keuntungan individu menjadi alasan utama persoalan itu.

Dibandingkan dengan negara maju di Eropa yang membina tempat pengolahan limbah rumah tangga pada setiap wilayah penduduk, pemerintah Indonesia tidak banyak berbuat apapun. Memang Indonesia adalah salah satu negara berkembang dengan rata-rata penghasilan per kapita warganya melulu US$ 3.452 per orang per tahun, tetapi hal ini tidak boleh menjadi alasan Indonesia dalam menanggulangi limbah buangan pemukiman penduduk. Sebelum permasalahan meningkat serius, seharusnya pemerintah mau untuk menggelontorkan dana menanggulangi limbah cair rumah. Orang pemerintahan yang pernah menjalani pendidikan sampai perguruan tinggi seharusnya sudah memahami bahwa limbah rumah tangga yang dilemparkan ke sungai berisi bahan kimia berbahaya yang berasal dari pemakaian detergen dan produk lain laksana personal cleaning service produck. Tanpa adanya pengolahan limbah cair rumah tangga, dapat dibayangkan akibat yang dihadapi masyarakat yang memakai air tanah.Sisa detergen bekas pakai bisa begitu saja terbuang tanpa pengolahan lebih lanjut.

Detergen adalah pembersih sintetis campuran begitu banyak  bahan, yang dipakai untuk menolong pembersihan dan tercipta dari bahan-bahan turunan minyak bumi. Dua bahan terpenting dari pembentuk deterjen yaitu surfaktan dan builders, diidentifikasi memiliki pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap manusia dan lingkungannya. Surfaktan dapat mengakibatkan permukaan kulit kasar, hilangnya kelembaban alami yamg terdapat pada permukan kulit dan menambah permeabilitas permukaan luar. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kulit manusia hanya mampu mempunyai toleransi kontak dengan bahan kimia dengan kandungan 1 % LAS dan AOS dengan dampak iritasi ‘sedang’ pada kulit. Surfaktan kationik mempunyai sifat toksik jika tertelan dibandingkan dengan surfaktan anionik dan non-ionik. Sisa bahan surfaktan yang ada dalam deterjen dapat menyusun chlorbenzene pada proses klorinisasi pengolahan air minum PDAM. Chlorbenzene adalah senyawa kimia yang mempunyai sifat racun dan berbahaya untuk kesehatan.kandungan deterjen yang dipakai masyarakat Indonesia umumya berisi ABS (alkyl benzene sulphonate) yang adalah deterjen termasuk keras.

Alkil Benzana Sulfonat adalah bahan kimia yang sulit dirusak oleh mikroorganisme (nonbiodegradable) sehingga dapat memunculkan pencemaran lingkungan. Lingkungan perairan yang ternoda limbah deterjen kelompok keras ini dalam fokus tinggi akan menakut-nakuti dan membahayakan kehidupan biota air dan manusia yang mengkonsumsi biota tersebut. Di samping itu, deterjen dalam badan air bisa merusak insang dan organ pernafasan ikan yang menyebabkan toleransi ikan terhadap badan air yang kandungan oksigennya rendah menjadi menurun.Keberadaan busa-busa di permukaan air pun menjadi salah satu penyebab kontak udara dan air terbatas sehingga menurunkan oksigen terlarut.Beberapa negara di dunia secara sah tidak mengizinkan pemakaian zat ABS ini dalam penciptaan deterjen dan mengenalkan senyawa kimia baru yang dinamakan Linier Alkyl Sulfonat. Namun pemerintah Indonesia belum mengikuti jejak itu dan masih membiarkan sejumlah perusahaan menambahalan ABG dalam poses penciptaan detergen.

Detergen paling berbahaya untuk lingkungan karena dari sejumlah kajian menjelaskan bahwa detergen memilki kemampuan untuk melarutkan bahan mempunyai sifat karsinogen, contohnya 3,4 Benzonpyrene.Proses penguraian detergen akan menghasilkan sisa benzena yang jika bereaksi dengan khlor akan menyusun senyawa klorobenzena yang paling berbahaya. Kontak benzena dan klor sangat mungkin terjadi pada pengolahan air minum. Kandungan detergen dalam air minum akan memunculkan bau dan rasa tidak enak. Dalam jangka panjang, air minum yang sudah terkontaminasi limbah detergen berpotensi sebagai salah satu penyebab penyakit kanker.

Masyarakat sebagai pelaku perusak lingkungan tidak bisa banyak berbuat terhadap sisa limbah cair rumah tangga sebab kekurangan kemudahan yang disediakan pemerintah. Sisa bekas cuci akan langsung dialirkan ke got dan terbuang ke sungai. Jika menghitung debit limbah cair yang dilemparkan sekitar 150 liter/orang/hari ke selokan, bisa dibayangkan kehancuran yang terjadi andai 242. 325.638 orang Indonesia melakukannya setiap hari.