Blog

Cara membayar fidyah orang meninggal beserta niatnya

Melaksanakan puasa tanpa terdapatnya hari bolong pasti menjadi kebahagiaan sendiri. Akan tersedia rasa nikmat termasuk dalam menyongsong hari kemenangan Idul Fitri.

Tapi tersedia termasuk beberapa orang yang terpaksa berhalangan untuk menggerakkan ibadah puasa penuh. Misalnya gara-gara sakit, hamil, menyusui, haid ataupun nifas.

Nah bersama begitu, orang yang tidak mampu menjalani puasa perlu menggantinya ketika Ramadhan berakhir. Bahkan, orang yang meninggal dunia selagi Ramadhan pun membayar tukar yang dikerjakan oleh keluarga yang ditinggalkan.

Sebab, puasa Ramadhan merupakan ibadah untuk Allah dan kalau ditinggalkan maka dianggap sebagai pinjaman kepada Allah SWT. Jika kamu tidak membayarnya sepanjang di dunia, maka bakal ditagih Allah selagi berada di akhirat kelak.

Sebagai gantinya, kamu perlu mengganti puasa di lain selagi atau membayar fidyah. Fidyah secara bhs bermakna menebus dan mengganti.
Fidyah merupakan sejumlah harta benda atau makanan dalam takaran khusus yang perlu diberikan kepada fakir miskin sebagai pengganti puasa yang sudah ditinggalkan.

Lalu bagaimana langkah membayar fidyah untuk orang yang sudah meninggal dunia? Seperti apa ketentuannya?

 

Tata langkah membayar fidyah orang meninggal dunia.

Mungkin kamu pernah mendapatkan kejadian, seseorang tidak sempat membayar fidyah gara-gara ia sudah meninggal dunia. Hal ini mampu benar-benar berlangsung dalam kehidupan sehari-hari kita.

Sebagai solusinya perlu tersedia pengganti untuk puasa yang tidak mampu dikerjakan tersebut. Hal ini dijelaskan Abu Syuja’;

“Barangsiapa memiliki pinjaman puasa ketika minggal dunia, hendaklah dilunasi bersama langkah memberi makan (kepada orang miskin), satu hari tidak puasa dibayar bersama satu mud.”

Satu mud bermakna 1/4 sho’. Sedangkan satu sho’ sekitar 2,5 – 3,0 kilogram.
Pembayaran fidyah ini dikerjakan oleh kerabat terdekat atau orang yang diizinkan atau ahli waris. Ketentuan ini dijelaskan dalam hadits berasal dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Barangsiapa yang meninggal dunia lantas masih memiliki pinjaman puasa, maka keluarga dekatnya (walau bukan ahli waris) yang mempuaskan dirinya.” (HR Bukhari no. 1952 dan Muslim no. 14147).

Ketentuan ini termasuk diperkuat bersama hadits berasal dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata:

“Ada seseorang pernah menemui Rasulullah SAW lantas ia berkata, “Wahai Rasulullah, sebenarnya ibuku sudah meninggal dunia dan ia masih memiliki pinjaman puasa sebulan. Apakah saya perlu membayarkan qodho’ puasanya atas nama dirinya?” Beliau lantas bersabda, “Seandainya ibumu memiliki utang, apakah engkau bakal melunasinya?” “Iya,”, jawabnya. Beliau lalu bersabda, “Utang Allah lebih berhak untuk dilunasi.” (HR Bukhari no. 1953 dan Muslim no. 1148).

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Jika seseorang sakit di bulan Ramadhan, lalu ia meninggal dunia dan belum lunas pinjaman puasanya, maka puasanya dilunasi bersama memberi makan kepada orang miskin dan ia tidak memiliki qodho’. Adapun kalau ia memiliki pinjaman nazar, maka hendaklah kerabatnya melunasinya.” (HR. Abu Daud no. 2401, shahih kata Syaikh Al Albani).

Bisa disimpulkan, bahwa orang yang memiliki pinjaman puasa dan terlanjur meninggal dunia sebelum saat melunasinya, maka mampu ditempuh bersama dua langkah membayar puasa:

1. Membayar pinjaman puasa bersama kerabatnya melaksanakan puasa.

2. Menunaikan fidyah.

Niat membayar fidyah orang meninggal.

Lafal tekad membayarkan puasa orang yang meninggal berlainan bersama membayar puasa untuk diri sendiri. Perbedaannya tersedia terhadap penyebutan nama orang yang sudah meninggal dunia selanjutnya dalam niat.

“Nawitu shouma ghodin ‘an qodhoo i fardho romadhoona (menyebutkan nama orang meninggal yang bakal kamu gantikan puasanya) lillahi ta’ala.”